Selasa, 08 Agustus 2017

Budaya Pesantren Sebagai Panutan


“Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia”.( Deddy Mulyana: Komunikasi Antarbudaya)

Dari kutipan di atas, Deddy Mulyanan  memaparkan berdasarkan realitas yang terjadi. Yaitu ketika budaya membentuk cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Begitupun budaya sangat berperan dalam pembantukan suatu wilayah maupun personalitas seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain. Termasuk di dalamnya system agama, bahasa, politik, pakaian, bangunan, karya seni dan berbagai macam system. Dan itu semua telah dibentuk oleh nenek moyang kita. Meskipun ada beberapa ragam budaya yang terbentuk oleh pemaduan antar budaya. Yang di kenal dengan budaya baru.

Terkadang tanpa kita sadari ritualitas keseharian kita di bentuk oleh budaya.  Sebagaimana, ketika saya memasuki wilayah pondok pesantren Nurul Jadid khususnya wilayah Al-hasyimiyah. Dimana ketika itu saya sama sekali belum diperkenalkan dengan apa yang dimaksud dengan pesantren maupun kegiatan-kegiatan apa yang menjadi prioritas utama dari sebuah pesantren?. Saya masuk sebagai anak itik yang mengikuti induknya. Maksudnya saya hanya mengikuti alur pesantren melalui kakak kelas “takhlidul-á’mââyaitu ikut-ikutan tanpa mempertimbangkan kebenarannya. Saya menjadikan diri mereka sebagai panutan untuk melakukan kegiatan pondok, yang terkadang jalan buntu yang saya dapatkan. Ini disebabkan ketidak pahaman saya akan budaya pesantren.

Pesantren yang dikenal dengan kehidupan para wali, yaitu ritualitas yang ada di dalamnya mencerminkan kegiatan para wali Allah. Sebagaimana kyai yang menjadi pusat pembentuk akhlak para santrinya dan Masjid sebagai pusat ibadah para santri. Kyai dikenal sebagai Wali yang menuntun kaum Islam menuju surga-Nya, begitu pula Masjid adalah komponen dasar yang ada dalam pesantren. Tanpa adanya ke empat unsur yaitu: Kyai, santri, masjid dan pondok maka tidaklah ia disebut pesantren. Oleh karena itu, apabila ke empat unsur itu di gabungkan maka pesantren akan terbentuk. Dan sekarang pesantren menjadi pusat pendidikan di kalangan kaum Islam khususnya di Jawa Timur.

Di pesantren inilah saya menyadari akan pentingnya pengetahuan agama dibanding pengetahuan umum. Agama islam yang mengajarkan untuk bertahlîl, dhibå’, Qirõ’atul munjiyât dan beragam kegiatan lain, dan ini semua saya dapatkan di dunia pesantren. Yang telah membudaya di seantero pesantren-pesantren indonesia khususnya Jawa Timur.

Ketika saya cenderung masuk dalam dunia pesantren, saya baru mengenal serta mebedakan apa yang pantas di lakukan oleh seorang santri, dan itu semua mengubah pola pikir maupun tingkah saya dalam melakukan kegiatan-kegiatan. Sebagai contoh, ketika para santri menetapkan penggunaan sarung ke Mushallah, dengan sendirinya saya sedikit demi sedikit mengetahui kegunaan sarung sebagai “sucian” (di kenal dalam pesantren sebagai cap suci agar ibadahnya di terima di sisi Allah). Tak dapat dipungkiri jiwa kesederhanaan santri tercermin dalam kesehariannya menggunakan sarung. Dengan budaya sarung, seorang santri tanpa sadar ia telah masuk dalam keseharian-keseharian para wali.

 Dengan jiwa kesederhanaan yang dimiliki para wali, ia mampu menerima pemberian Allah dengan rasa syukur. Meskipun kekayaan telah dibentangkan di hadapannya seluas-luasnya. Namun apa yang terjadi? Para wali Allah tetap teguh pendiriannya untuk membela agam Allah yaitu Islam. Dengan jalan dakwah fîîsabîîlillah.




          Saya berharap kebudayaan yang ada di pondok pesantren ini, telah terpatri dalam jiwa saya dan jiwa Sahabat Pena. Dan mampu mempertahankannya untuk di bawa ke masyarakat sebagai pedoman menuju Islam kamil. Amin yaa Rabbal Alamin.