Kamis, 27 Juli 2017

Andai Kau Tahu Ibu


Menyatukan 2 karakter berbeda itu bagaikan memasukkan air dalam minyak. Jika seorang anak memiliki karakter yang sama dengan ibunya, akan semakin sulit untuk bersatu. Sama-sama egois, maka tidak akan ada yang mengalah. Dan ibu selalu berada di posisi yang benar. Anak tak mungkin membantah, hanya bisa menutupinya dengan isakan.

Andai ibu tahu, aku pun seorang anak yang ingin dikasihi. Bukan dimarahi. Amarahnya sama halnya pukulan bagiku. Tak hentinya ia mengomel dan meracau. Semakin membuat dadaku sakit. Terhimpit dan terpojokkan.

Semua anak pasti merasakan amarah seorang ibu. Dan aku tahu, semua demi kebaikan seorang anak. Tapi... Mengapa aku tak mampu membendung amarah ibu? Durhaka kah diriku hingga melalaikan perintahnya?

Andai kau tahu ibu, aku sangat mengagumimu. Namun, ketika amarah itu terlontar. Kau menjelma bagai musuhku. Aku memilih diam dan menangis sejadi-jadinya. Membiarkan isakkanku dalam dekapan dada.

Karena kutakut, saat amarah akan berbalik ke arahmu. Diam adalah pilihan terbaik. Menyakiti diri sendiri itulah hukumanku. Biarlah lambungku kosong, agar kau tahu. Aku sangat mencintaimu.