Selasa, 25 Juli 2017

Persepsi Sosial


MAKALAH
PERSEPSI SOSIAL
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas Matakuliah Ilmu dan Teori Komunikasi
Dosen pembimbing:
H.M.Ilyas Rolis S.Ag, M.Si


Disusun Oleh:
Rif’atul Khoiriah .Malik


FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
PAITON PROBOLINGGO
November 2012

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
            Segala puji syukur kepada Allah swt, yang telah memberi rahmat dan hidayahnya,  kepada kita. Kami mengucapkan alhamdulillah karena telah menyelesaikan apa yang sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai seorang pelajar, yakni menyelesaikan atau membuat makalah dengan tema Persepsi Sosial”.
            Pertama-tama sholawat seiring salam tetap kami panjatkan kepada nabi tercinta, atas   keagungan Nabi Muhammad saw, yang telah memberi kepintaran kepada ummatnya dari zaman kebodohan. Kedua kalinya saya mengucapakan terima kasih kepada kedua orang tua, karena berkat dukungan beliaulah, sehingga kami mampu menjalani semua tugas dan tetap sampai sekarang dapat menimba ilmu dengan sungguh-sungguh. Dan tidak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembina bapak Moh. Ilyas Rolis. yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing, dan memberi pengarahan kepada kami, sehingga penulis dapat menyelesaikan amanah beliau dengan baik meskipun ada sedikit kekurangan.
            Pada kesempatan kali ini kami akan memaparkan sedikit dalam matakuliah Ilmu dan Teori Komunikasi, dengan tema yang telah saya sebutkan diatas. Harapan kami, Insya’allah, materi-materi yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat, baik bagi kami dan bagi teman-teman yang suatu saat akan membutuhkan materi ini.  Karena itu kami dengan senang hati mengharapakan kritik dan saran untuk perbaikan tanggungan sebagai seorang mahasiswa khususnya kepada kami agar kedepannya bisa melaksanakan tugas dengan baik. Kepada semua teman tercintaku yang telah ikut mendukung dan atas partisipasinya bagi kami, kami mengucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 

DAFTAR ISI
Halaman Sampul........................................................................................ i
Kata Pengantar.......................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.............................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah.......................................................................... 2
C.     Tujuan Penulisan............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Definisi Persepsi............................................................................. 3
1.      Perhatian ........................................................................... 4
2.      Factor fungsional................................................................ 5
3.      Factor struktral................................................................... 5
B.     Hakikat Persepsi............................................................................ 6
1.      Persepsi merupakan kemampuan kognitif............................ 6
2.      Peran atensi dalam persepsi................................................ 6
C.     Persepsi social............................................................................... 7
1.      Persepsi berdasarkan pengalaman...................................... 7
2.      Persepsi bersifat selektif..................................................... 8
3.      Persepsi bersifat dugaan..................................................... 9
4.      Persepsi bersifat kolektif.................................................... 10
5.      Persepsi bersifat kontekstual.............................................. 10
D.    Bias dalam Persepsi Sosial............................................................. 13
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 17

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
     Menurut Jalaluddin Rakhmat (1998:51), persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa dan hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan-pesan yang muncul dan dipersepsi. Dapat berarti pesan yang tersurat maupun yang tersirat.
     Perkembangan pemikiran yang dimiliki manusia modern, telah mengubah pandangan mereka terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan persepsi yang mereka miliki. Dari pemaparan Jalaluddin Rakhmat sebagaimana persepsi diambil dari sebuah pengalaman, memperjelas akan kuatnya pemikiran manusia dalam mengingat masa lampau yang dibawa oleh alam bawah sadar otak. Akan tetapi, persepsi yang dibuat berdasarkan pengalaman bisa saja berubah dengan adanya perkembangan pemikiran seseorang. Sebagai contoh, seseorang di tahun 2000 lebih mementingkan belajar menggunakan lampu minyak. Akan lain halnya ketika Ia telah masuk di tahun 2012, Ia akan lebih memilih belajar dengan menggunakan lampu neon.
Dapat kita simpulkan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Sebelum beranjak ke persepsi, awalnya terbentuk melalui pemaknaan dengan adanya stimulus. Kemudian beranjak pada interpretasi yang berkaitan dengan pengalaman yang dirasakan sebelumnya.
     Manusia sebagai inti komunikasi, akan cenderung menilai segala apa yang ada dalam lingkungannya. Karna manusia bersifat emosional  yaitu mengedepankan panca indranya dibanding intuisi yang Ia miliki. Sebagaimana yang akan saya bahas dalam makalah ini, tentang persepsi yang tercipta melalui pengalaman seseorang. Dan hakikat persepsi maupun factor yang menunjang terjadinya persepsi itu sendiri.



B.    Rumusan Masalah
  1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan persepsi dan sebutkan salah satu pandangan peneliti tentang persepsi!
  2. Sebutkan beberapa hakikat persepsi!
  3. Fakto-factor apa saja yang mempengaruhi adanya persepsi?
  4. Apa yang dimaksud dengan persepsi social? Dan jelaskan!

C.   Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui arti dari persepsi dan mampu memaparkan penjelasan dari berbagai ahli yang mengartikan persepsi sebagai suatu objek pengalaman.
  2. Untuk menjabarkan serta memahami hakikat dari persepsi.
  3. Untuk mengetahui hasil dari factor-faktor yang mempengaruhi persepsi.
  4. Untuk menjelaskan arti dari persepsi social secara teoritis maupun analisis.    


BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Persepsi
     Dalam bahasa inggris, persepsi adalah perception, yaitu cara pandang terhadap sesuatu atau mengutarakan pemahaman hasil olahan daya pikir, artinya persepsi berkaitan dengan factor-faktor eksternal yang direspon melalui panca indra, daya ingat dan daya jiwa.
     Dalam kehidupan manusia sebagai individu, kesadaran pertama yang harus dikembangkan dan dijaga adalah persepsi diri sendiri mengenai idealitas kedirian yang menimbulkan citra diri dan harga diri. Sebuah gambaran awal yang diciptakan individu guna membangun eksistensinya terhadap orang lain. Kemudian, citra diri yang telah dibangun oleh kekuatan persepsi ini akan menjadi patokan mengenai pandangan eksternal, terutama mengenai lingkungannya terhadap  individu yang bersangkutan.
     Dengan pemahaman tersebut, persepsi dapat diartikan sebagai daya pikiran dan daya pemahaman individu terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar. Daya tafsir dan daya tafkir berada di dalam otak, dan diolah sedemikian rupa dalam merespon berbagai stimulus.
     Adapun pengertian persepsi telah dikembangkan oleh para psikolog maupun peneliti yang diantaranya:
     Menurut Jalaluddin Rakhmat (1998:51), persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa dan hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan-pesan yang muncul dan dipersepsi. Dapat berarti pesan yang tersurat maupun yang tersirat.
     Menurut  Ruch (1967:300), persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk-petunjuk indrawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu.
     Atkinson dan Hilgard (1991:201)mengemukakan bahwa persepsi adalah proses menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan. Gibson dan Donely (1994:53), menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dua pengertian di atas memiliki subtansi yang sama, terutama berkaitan dengan proses pengolahan daya pikir manusia ketika menerima rangsangan dari lingkungannya. Oleh karena itu, persepsi dan mempersepsi merupakan kinerja sinergis antara otak dan responsibilitas dan antara pengalaman eksternalitas dan stimulasi yang terdapat di dalamnya. Dengan kata lain, stimulus dan respons yang saling berhubungan akan melahirkan persepsi.
     Dan sebagai pemaknaan persepsi di atas, dapat kita ketahui bahwasanya persepsi terbentuk malalui pemaknaan yang diawali dengan adanya stimulus, lalu berinteraksi dengan interpretasi. Setiap interpretasi yang muncul berdasarkan pada hasil seleksi dan relasi dengan berbagai pandangan dari pengalaman yang telah dirasakan sebelumnya.
     persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Perepsi ialah memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas, sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori (Desiderato, 19776:129)
     persepsi seperti juga sensasi, ditentukan oleh factor personal dan factor situasional. David Krech dan Richard S. Crutchfield (1997:235) menyebutkan factor fingsional dan factor structural. Sebelum membahas lainnya marilah kita mulai dengan factor lainnya yang sangat mempengaruhi persepsi, yakni perhatian.
1.      Perhatian
“Perhatian adalah proses mental ketika stimulasi atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah”.[1]
Perhatian terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indra yang lain. Adapun perhatian terjadi dikarenakan beberapa factor yaitu eksternal maupun internal. Sebagai contoh factor eksternal perulangan. Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian, di sini harus “familiarity” (yang sudah kita kenal) berpadu dengan unsur “nevelty” (yang baru kita kenal). Perulangan juga mengandung unsur sugesti: mempengaruhi alam bawah sadar kita. Bukan hanya pemasangan iklan, yang mempopulerkan produk dengan mengulang-ngulang “jingles” atau selogan.
2.      Factor Fungsional
Factor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai factor-faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli itu.
Factor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagai karangka rujukan. Mula-mula konsep ini berasal dari penelitian psikofisik yang berkaitan dengan persepsi objek. Para psikolog social menerapkan konsep ini untuk menjelaskan persepsi social. Dalam eksperimen psikofisik, Wever dan Zener menunjukkan bahwa penelitian terhadap objek dalam hal beratnya bergantung pada rangkaian objek yang dinilainya. Dalam rangkaian objek-objek yang berat, objek seberat 92 gram dinilai “ringan”; sedangkan dalam rangkaian benda-benda ringan, objek yang sama dinilai “berat”. Bila dilanjutkan pada persepsi social, kita akan melihat bahwa besar-kecilnya pendapatan nilai dalam karangka rujukan penilaian. 
3.      Faktor Struktural
                        Faktor-faktor stuktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkan pada sistem saraf individu. Para psikolog Gestalt, seperti Kohler Wartheimer (1959), dan Kofka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat structural. Prinsip ini, kemudian terkenal dengan teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, bila kita berpersepsi sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. Kita tidak melihat bagian-bagiannya, lalu menghimpunnya.
                        Pada persepsi sosial, pengelompokan tidak murni structural; sebab apa yang dianggap sama atau berdekatan oleh seorang individu tidaklah dianggap sama atau berdekatan oleh individu yang lain. Di sini, masuk jugalah peranan kerangka rujukan Ahli Zoologi menganggap kuda, manusia, dan ikan  paus sebagai satu kelompok (sama-sama mamalia). Kita melihat ketiganya berasal dari kelompok yang berlainan; kuda, hewan darat; ikan paus, hewab laut; manusia, tentu bukan hewan.
               Istilah persepsi biasanya digunakan untuk mengungkapkan pengalaman terhadap suatu benda ataupun suatu kejadian yang alami. Dalam kamus standar dijelaskan bahwa persepsi dianggap sebuah pengaruh ataupun sebuah kesan oleh benda yang semata-mata menggunakan pengamatan pengindraan. Persepsi ini didefinisikan sebagai proses yang menggabungkan dan mengorganisir data-data indra kita (pengindraan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat menyadari di sekeliling kita, termasuk sadar akan diri kita sendiri.[2]         
B. Hakikat Persepsi
            Dari berbagai pendefinisian persepsi di atas, kami menemukan hakikat persepsi yang sesungguhnya, diantaranya:
1.      Persepsi merupakan kemampuan kognitif
Persepsi ternyata banyak melibatkan kegiatan kognitif. Pada awal pembentukan persepsi, orang telah menentukan apa yang akan lebih diperhatikan. Setiap kali kita memusatkan perhatian, lebih besar kemungkinan kita akan memperoleh makna dari apa yang kita tangkap, lalu menghubungannya dengan pengalaman di masa lalu, dan dikemudian hari akan diingat kembali.
Proses informasi mempunyai peran dalam persepsi, sebagaiman seseorang akan terus membanding-bandingkan penglihatan, pendengaran akan informasi lainya, dengan ingatan pengalaman lampau yang mirip. Seseorang akan dengan mudah menilai seseorang melalui pengalamannya bersama orang tersebut. Disinilah proses persepsi itu terjadi.
2.      Peran atensi dalam persepsi
Selama kita dalam keadaan tidak tidur, maka sejumlah rangsangan saling berlomba menarik perhatian kita. Biasanya, manusia dan hewan lainnya akan memilih mana yang rangsangan tersebut paling menarik dan paling mengesankan. Keterbukaan kita untuk memilih inilah yang disebut atensi atau perhatian.
Beberapa psikolog melihat atensi sebagai jenis alat saringan (filter), yang akan menyaring semua informasi pada titik yang berbeda dalam proses persepsi. Sebaliknya, psikolog lain berpendapat bahwa manusia mampu memusatkan atensinya terhadap apa yang mereka kehendaki untuk dipersepsikan, dengan secara aktif melibatkan diri mereka dengan pengalaman-pengalaman tanpa menutup rangsangan lain yang saling bersaing.
Kelompok psikolog sangat tertarik untuk mengetahui tempat atau titik di dalam proses persepsi, di mana atensi memegang perannya. Dari hasil survey diajukan pendapat bahwa atensi selalu aktif pada waktu tertentu, yaitu; mula-mula ketika menerima masukan dari dugaan indra, kemudian ketika harus memilih dan menginterpretasikan data sensorik dan menentukan apakah akan memberikan respons terhadap rangsangan tersebut.
Dari berbagai penelitian telah menemukan bahwa, kebutuhan, minat dan nilai terbukti merupakan pengaruh yang penting dalam persepsi. Yaitu sebagai pemberi arah bagi persepsi orang.
C.  Persepsi Sosial
Persepsi sosial adalah proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita.[3] Manusia sebagai pusat komunikasi, memiliki pemikiran dan penilaian tersendiri terhadap apa yang Ia alami atau lihat. Oleh karena itu, manusia bersifat emosional. Slalu mengedepankan perasaan ketimbang pemikiran yang mendasar.
Setiap orang memiliki gambaran yang berbeda mengenal realitas disekelilingnya. Beberapa prinsip penting mengenai persepsi sosial yang menjadi pembenaran atas perbedaan persepsi sosial ini adalah sebagai berikut.[4]
1.      Persepsi berdasarkan pengalaman
Pola-pola perilaku manusia berdasarkan persepsi mengenai realitas (sosial) yang telah dipelajari. Persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman dan pembelajaran masa lalu mereka berkaitan dengan orang lain, objek atau kejadian serupa. Cara kita bekerja dan menilai pekerjaan apa yang baik bagi kita, cara kita makan dan menilai makanan apa yang lezat bagi kita. Cara kita bereaksi pada seekor ular, atau mengukur kecantikan perempuan, sangat bergantung pada apa yang telah diajarkan oleh budaya kita mengenal hal-hal itu.  
Berdasarkan pengalaman terdahulu, maka seseorang dengan mudah mempersepsi hal serupa dengan apa yang dilihatnya di masa lampau. Sebagaimana yang saya ketahui, seseorang dibentuk dengan pengalaman tanpa mau mengubah persepsi tentang sesuatu. Yang diamana sesuatu itu, mungkin saja telah beradaptasi sesuai perkembangan zaman. Demikian halnya ketiadaan pengalaman terdahulu dalam menghadapi suatu objek jelas akan membuat seseorang menafsirkan objek tersebut berdasarkan dugaan semata, atau pengalaman yang mirip.
Oleh karena kita terbiasa merespons suatu objek dengan cara tertentu, kita sering gagal mempersepsi perbedaan yang samar dalam suatu objek yang mirip. Kita memperlalukan objek itu seperti sebelumnya. Padahal terdapat rincian lain dalam objek tersebut. Kita misalnya sering tidak melihat kekeliruan ejaan yang terdapat dalam makalah yang kita tulis sendiri,  namun lebih sering menemukan kesalahan ejaan dalam makalah yang ditulis orang lain.
2.      Persepsi bersifat selektif
Atensi pada suatu rangsangan merupakan faktor  utama yang menentukan selektifitas atas rangsangan tersebut. Berikut adalah Faktor internal yang mempengaruhi atansi: faktor biologis (lapar, haus dsb).; faktor fisiologis (tinggi, pendek, gemuk, kurus, sehat dsb). Dan faktor-faktor budaya seperti gender, agama, tingkat pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status sosial, kebiasaan dan bahkan faktor-faktor psikologis seperti kemauan, keinginan, motivasi, pengharapan dsb. Semakin besar aspek-aspek tersebut secara antarindividu, semakin besar perbedaan persepsi mereka mengenai realitas.
Sebagai contoh, emosi sangat jelas mempengaruhi persepai kita. Ketika kita sedang bahagia, dalam mendapatkan hasil ujian yang sangat memuaskan, maka apapun yang kita hadapi saat itu meski sangat pelik akan kita tanggapi denga hati bahagia juga. Karna dalam keadaan bahagia kita cenderung lebih berpandang positif maupun sebaliknya. Maka apapun yang kita persepsi adalah sebagaimana yang kita alami sekarang.
Adapun Faktor eksternal yang mempegaruhi atensi: yakni atribut-atribut objek yang dipersepsi seperti gerakan, intensitas, kontras, kebaruan dan perulangan objek yang dipersepsi.
Suatu objek yang bergerak lebih menarik perhatian dari pada objek yang diam. Itu sebabnya kita lebih menyenangi televisi sebagai gambar bergerak dari pada komik sebagai gambar diam. Suatu rangsangan yang intensitasnya menonjol juga akan menarik perhataian. Objek apapun itu yang lebih menonjol diantara lingkungannya akan menjadi pusat perhatian, ketimbang intensitas yang biasa-biasa saja.
       3.  Persepsi bersifat dugaan.
Data yang kita peroleh dari pengindraan, tidaklah lengkap. Oleh karena itu kita akan meloncati suatu kesimpulan. Inilah persepsi yang bersifat dugaan dan memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lebih lengkap dari suatu sudut pandang manapun. Ketahuilah informasi yang lengkap tidak pernah tersedia, dugaan diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat pengindraan itu. Kita harus mengisi ruang yang kosong pada gambar itu dan menyediakan informasi yang hilang. Dengan demikian, persepsi juga adalah suatu proses mengorganisasikan informasi yang tersedia, menempatkan rincian yang kita ketahui dalam suatu skema organisasional tertentu yang memungkinkan kita memperoleh suatu makna yang lebih umum. 
         4.   Persepsi bersifat evaluatif
Kebanyakan orang menjalani hari-hari mereka dengam perasaan bahwa apa yang mereka persepsi adalah nyata. Mereka berpikir bahwa menerima pesan dan menafsirkannya sebagai suatu proses yang alamiah. Hingga derajat tertentu asumsi itu benar. Akan tetapi terkadang alat-alat indra dan persepsi kita menipu, sehingga kita juga ragu seberapa dekat persepsi kita dengan realias sebenarnya.[5] Bila Anda memiliki teman dan mengatakan bahwa Ia mempersepsi seseorang atau sesuatu ”secara objektif”, maka sesungguhnya Ia membohongi Anda. Tidak ada persepsi yang pernah objektif. Anda melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman  masa lalu dan kepentingan Anda.
Dengan demikian persepsi bersifat pribadi dan subjektif. Menggunakan kata-kata Andrea L.Rich, “persepsi pada dasarnya mewakili keadaan fisik dan psikologis individu alih-alih menunjukan karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dipersepsi”. Menurut Rogers, kita tidak bereaksi terhadap realitas mutlak melainkan terhadap persepsi kita mengenai realitas tersebut.  Dengan pengertian ini, kita sesungguhnya hidup dalam persepsi yang kita buat berdasarkan kondisi psikologis kita saat itu, dan kita hidup dalam perspektual yang bukanlah merupakan relitas itu sendiri.
         5.  Persepsi bersifat kontekstual
Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat, dikarenakan suatu objek atau kejadian sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan persepsi.
Dalam mengorgansasikan suatu objek,yakni meletakkannya dalam suatu konteks tertentu, telah digunakan prinsip-perinsip berikut:[6]
Prinsip pertama: Struktur objek atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau kedekatan dan kelengkapan. 
Persepsi kedua: Kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadian yang terdiri dari objek dan latar belakangnya.
Persepsi sosial merupakan suatu proses seseorang untuk mengetahui, menginterprestasikan dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, tentang sifat-sifatnya, kualitasnya dan keadaan yang lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi, sehingga terbentuk gambaran mengenai orang yang dipersepsi. Namun demikian, karena yang dipersepsi itu manusia seperti halnya dengan yang mempersepsi, maka objek persepsi dapat memberikan pengaruh kepada yang mempersepsi. Dengan demikian dapat dikemukakan dalam mempersepsi manusia atau orang (person) adanya dua pihak yang masing-masing mempunyai kemampuan-kemampuan, perasaan-perasaan, harapan-harapan, pengalaman-pengalaman tertentu yang berbeda satu dengan yang lain, yang dapat berpengaruh dalam mempersepsi manusia atau orang tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, maka  ada beberapa hal yang dapat ikut berperan dan dapat berpengaruh dalam mempersepsi manusia yaitu:
1.      Keadaan stimulus, dalam hal ini berwujud manusia yang akan di persepsi.
2.      Situasi atau keadaan sosial yang melatar-belakangi stimulus.
3.      Keadaan orang yang mempersepsi.
Walaupun stimulus personnya sama tetapi jika situasi sosial yang melatar belakangi stimulus person berbeda akan berbeda hasil persepsinya. Pikiran, perasaan, kerangka acuan, pengalaman-pengalaman atau dengan kata lain keadaan pribadi orang yang mempersepsi, akan berpengaruh dalam diri seseorang untuk mempersepsi orang lain. Hal tersebut disebabkan karena persepsi merupakan aktivitas yang integrated. Bila orang yang dipersepsi atas dasar pengalaman merupakan seseorang yang menyenangkan bagi orang yang mempersepsi akan lain hasil persepsinya bila orang yang dipersepsi itu memberikan pengalaman yang sebaliknya. Demikian pula dengan aspek-aspek lain yang terdapat dalam diri orang yang mempersepsi.
Demikian pula situasi sosial yang melatar-belakangi stimulus person juga akan ikut berperan dalam hal mempersepsi seseorang. Bila situasi sosial yang melatar belakangi berbeda, hal tersebut dapat membawa perbedaan hasil persepsi seseorang. Orang yang biasa bersikap keras, tetapi karena situasi sosialnya tidak memungkinkan untuk menunjukkan kekerasannya, hal tersebut akan mempengaruhi diri seseorang dalam berperan sebagai stimulus person. Keadaan tersebut, dapat mempengaruhi orang yang mempersepsinya. Karena itu, situasi sosial yang melatar belakangi stimulus person mempunyai peran yang penting dalam persepsi, khususnya persepsi social.
Sarwono (2002) juga menjelaskan bahwa individu dapat mempunyai persepsi social yang sama dan juga ada kemungkinan mempunyai persepsi social yang berbeda tentang stimulus yang ada dilingkungannya. Hal ini disebabkan antara lain oleh pengaruh social budaya dari lingkungan individu, objek yang dipersepsi, motiv individu, dan kepribadian individu. Lebih jauh, sarwono (2002) menambahkan bahwa persepsi social juga sangat tergantung pada komunikasi. Artinya, bagaimana komunikasi yang terjadi antara satu individu dengan individu lainnya akan mempengaruhi persepsi diantara keduanya. Komunikasi disini menurut Sarwono (2002) bukan hanya sebatas komunikasi verbal melainkan juga komunikasi non-verbal yang terjadi antara keduanya, seperti gerak tubuh, ekspresi wajah dan lain sebagainya.
Selanjutnya, persepsi sosial juga dianggap sebagai bagian dari kognisi social (akan dibahas selanjutnya), yaitu pembentukan kesan-kesan tentang karakteristik-karakteristik orang lain. Kesan yang diperoleh tentang orang lain tersebut biasanya didasarkan pada tiga dimensi persepsi, yaitu:
1 Dimensi evaluasi yaitu penilaian untuk memutuskan sifat baik buruk, disukai-tidak disukai, positif-negatif pada orang lain.
2 Dimensi potensi yaitu kualitas dari orang sebagai stimulus yang diamati (kuat-lemah, sering-jarang, jelas-tidak jelas).
3 Dimensi aktivitas yaitu sifat aktif atau pasifnya orang sebagai stimulus yang diamati.
Berdasarkan tiga dimensi tersebut, maka persepsi sosial didasarkan pada dimensi evaluatif, yaitu untuk menilai orang. Penilaian ini akan menjadi penentu untuk berinteraksi dengan orang selanjutnya. Artinya, persepsi sosial timbul karena adanya kebutuhan untuk mengerti dan meramalkan orang lain. Maka dalam persepsi sosial tercakup tiga hal yang saling berkaitan, yaitu:
1 Aksi orang lain, yaitu tindakan individu yang berdasarkan pemahaman tentang orang lain yang dinamis, aktif dan independen.
2.   Reaksi orang lain,  merupakan aksi individu menghasilkan reaksi dari individu, karena aksi individu dan orang lain tidak terpisah. Pemahaman individu dan cara pendekatannya terhadap orang lain mempengaruhi perilaku orang lain itu sehingga timbul reaksi.
3 Interaksi dengan orang lain, yaitu reaksi dari orang lain mempengaruhi reaksi balik yang akan muncul.
D.  Bias dalam Persepsi Sosial
Ada beberapa bias atau kesesatan dalam persepsi sosial, antara lain yaitu:
1.   Hallo Effect
Merupakan kecenderung untuk mempersepsi orang secara konsisten. Hallo effect ini secara umum terjadi karena individu hanya mendasarkan persepsinya hanya pada kesan fisik atau karakteristik lain yang bisa diamati.
2.   Forked Tail Effect (negative hallo)
Merupakan lawan dari hallo effect, yaitu melebih-lebihkan kejelekan orang hanya berdasarkan satu keadaan yang dinilai buruk.
Apabila kita telah masuk ke persepsi sosial, maka kita akan mendapatkan keberagaman faktor yang mempengaruhi persepsi sosial dan faktor-faktor itu pun tidak tetap, melainkan selalu berubah-ubah, maka seringkali terjadi perbedaan persepsi antara satu orang dengan orang lain atau antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Hal-hal yang dapat menyebabkan persepsi antarindividu dan antarkelompok adalah sebagai berikut.[7]
1.      Perhatian
            Setiap harinya, kita memiliki ratusan bahkan ribuan rangsangan yang tertangkap indra kita tentunya, kita tidak mampu menyerap seluruh rangsangan yang ada di sekitar kita sekaligus. kerena keterbatasan daya serap dan persepsi kita, maka kita terpaksa hanya bisa memusatkan perhatian kita pada satu akan dua objek saja.
2.      Set
              Set (mental set) adalah persiapan mental seseorang untuk menghadap suatu rangsangan yang akan timbul dengan cara tertentu. Misalnya, seorang atlet pelari yang siap dari garis “start“ mempunyai set bahwa beberapa detik lagi akan terdengar bunyi pistol saat mana ia harus memulai berlari. Terlambatnya atau batalnya bunyi pistol, bisa membuat atlet tersebut kebingungan karena tidak tahu apa yang harus di lakukan.
3.      Kebutuhan
kebutuhan-kebutuhan sesaat maupun yang menetap pada diri seseorang  akan mempengaruhi persepsi orang tersebut. Dengan demikian kebutuhan yang berbeda akan menyebabkan perbedaan persepsi.
4.      Sistem nilai
            Sistem nilai berlaku dalam satu masyarakat berpengaruh pula terhadap persepsi. Suatu Eksprimen di amerika serikat (Brunner dan Godman, 1947 dalam Baker Rierdan dan Wapner, 1974)  menunjukkan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga miskin mempersepsi mata uang logam lebih besar dari pada ukuran yang sebenarnya. Gejala ini ternyata tidak terdapat pada anak-anak yang berasal dari kelurga kaya.
5.      Tipe kepribadian
Dengan melihat kepribadian seseorang, kita mampu mempersepsi seseorang sesuai dengan kulit luarnya. Dalam persepsi ini, tidak menuntut kemungkinan bahwa kepribadian seseorang di masa lalu tetap sama dengan kepribadiannya pada masa sekarang. Dikarenakan perkambangan zaman telah membentuk pola hidup seseorang untuk berinteraksi.
6.      Gangguan kejiwaan
Sebagai gejala normal, ilusi berbeda dari halusinasi dan delusi, yaitu kesalahan persepsi pada penderita gangguan jiwa (biasanya pada penderita Schizophrenia). Penyandang gejala halusinasi Visual seakan-akan melihat sesuatu dan Ia percaya betul dengan apa yang dilihatnya itu realita. Sedangkan penyandang halusinasi Auditif  seakan-akan mendengar suara tertentu, yang diyakininya sebagai realita. Gejala halusinasi Visual dan Auditif dan mungkin juga pada indra yang lain, bisa terdapat pada satu orang, yang mengakibatkan orang itu mengalami delusi, delusi merupakan keyakinan bahwa dirinya menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan realita (fixed  false belief).


BAB III
PENUTUP

    A.  Kesimpulan
o   Persepsi adalah yaitu cara pandang sesuatu terhadap sesuatu atau mengutarakan pemahaman hasil olahan daya pikir, artinya persepsi berkaitan dengan factor-faktor eksternal yang direspon melalui panca indra, daya ingat dan daya jiwa.
o   Berikut pandangan Menurut Ruch (1967:300), persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk-petunjuk indrawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu.
o   Hakikat dari persepsi adalah: Persepsi merupakan kemampuan kognitif dan Peran atensi dalam persepsi. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi adanya persepsi adalah: perhatian, factor fungsional dan factor structural.
o   Persepsi sosial adalah proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Manusia sebagai pusat komunikasi, memiliki pemikiran dan penilaian tersendiri terhadap apa yang Ia alami atau lihat. Oleh karena itu, manusia bersifat emosional. Slalu mengedepankan perasaan ketimbang pemikiran yang mendasar.
o   Setiap orang memiliki gambaran yang berbeda mengenal realitas disekelilingnya. Beberapa prinsip penting mengenai persepsi sosial yang menjadi pembenaran atas perbedaan persepsi sosial ini adalah sebagai berikut:
Persepsi berdasarkan pengalaman, bersifat selektif, bersifat dugaan, bersifat evaluative dan persepsi bersifat kontekstual.



DAFTAR PUSTAKA

Ø  Abdul Rahman Shaleh. PSIKOLOGI suatu pengantar dala perspektif islam. Jakarta. Kencana 2008.
Ø  [1]Deddy Mulyana. Ilmu Komunikasi suatu pengantar. Remaja rosdakarya. Bandung  cet 2, februari 2001.
Ø  Sarlito W.Sarwono. pengantar psikologi umum. Raja grafindo. Jakarta. Cet 3, November 2010.
Ø  Mursidin. Psikologi umum. Pustaka setia. Bandung. Cet 1 februari 2010.









[1] Pendefinisian Kenneth E. Anderian (1972:46) dalam bukunya sebagai pengantar pada teori komunokasi.
[2] Abdul Rahman Shaleh. PSIKOLOGI suatu pengantar dala perspektif islam. Jakarta. Kencana 2008. Hlm 110.
[3] Deddy Mulyana, M.A.,Ph.D. Ilmu Komunikasi suatu pengantar. Remaja rosdakarya. Bandung  cet 2, februari 2001. Hlm  175.
[4] Larry A. Samovar dan Richard E.Porter. Communication Beetwen Cultures. Belmont, California: wadsworth, 1991, hlm 193.  
[5] Nancy L.Braganti dan Elizabeth Devine. The Traveler’s Guide to European Customs & Manners. Deephen, MN: Meadowbrook Books, 1984, hlm. 23.
[6] Deddy Mulyana, M.A.,Ph.D. Ilmu Komunikasi suatu pengantar. Remaja rosdakarya. Bandung  cet 2, februari 2001, hlm. 192.

[7] Sarlito W.Sarwono. pengantar psikologi umum. Raja grafindo. Jakarta. Cet 3, November 2010. Hlm 58.