Sabtu, 29 Juli 2017

Al-Qur'an Sebagai Sumber Ilmu

MAKALAH

AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER ILMU
Makalah ini diajukan sebagai syarat memenuhi tugas mata kuliah Tafsir 1

Dosen Pembimbing:
Drs. H. Bakir Muzanni M.Pd.I


Disusun Oleh:

Rif'atul Khoiriah M
Umiatul Hasanah
Fifin Rizkiyatul H
Nurul Istiqomah
Farida Hidayati
Lailatul Arifah

FAKULTAS  DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
PAITON PROBOLINGGO
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
            al-Qur’an adalah sebagai pedoman ummat Muslim dalam melakukan syari’at islam, dengan adanya kita dapat menilik kembali kisah-kisah terdahulu sebagai tolak ukur untuk mengambil langkah. Selain itu al-Qur’an berperan sebagai penerang bagi manusia sepanjang zaman. Sebagaimana kita ketahui dalam firmannya:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (AL-Qur’an) ini tidak ada kerguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”
            Kitab al-Qur’an yang telah menjadi pedoman ummat Muslim yaitu agama islam, sesungguhnya dalam agama ini Allah telah menjanjikan berbagai kemenangan untuk meninggikan derajat mereka. Dan Allah menegaskan dalam kitab-Nya akan kemuliaan kaum Mu’min dengan adanya penyerangan-penyerangan dari kaum Musyrikin.
B.  Rumusan Masalah
1)      Bagaimana mengkaji pengertian dari ayat-ayat al-Qur’an yang meliputi:surat  ali Imron 138-139, Al-Fath 28, Al-Hajj 41, adz-Dzariat 56?
2)       Bagaimana cara menafsirkan ayat-ayat tersebut?
3)      Berikan kesimpulan dari pemahamam ayat-ayat 

BAB II
PEMBAHASAN
A. Surat Ali-imron 138-139
1.      Ayat 138-139
هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138) وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْن إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (139)
Artinya:
            “inilah (al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (138) Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.[1]
      2.  Daftar Mufrodats
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia
هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ
Petunjuk
وَهُدًى
dan pengajaran
وَمَوْعِظَةٌ
bagi orang-orang yang bertakwa
لِلْمُتَّقِينَ
dan janganlah kamu merasa lemah
وَلَا تَهِنُوا
dan janganlah pula kamu bersedih hati
وَلَا تَحْزَنُوا
padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya)
وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْن
jika kamu (benar-benar) beriman
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
3. Analisis dan Munasabah Ayat
           Al-Qur’an ini adalah penerang bagi manusia secara keseluruhan. Ini adalah kutipan peristiwa kemanusiaan telah jauh berlalu, yang manusia sekarang tidak dapat mengetahuinya jika  tidak akan penerangan (penjelasan) yang menunjukannya. Akan tetapi, hanya segolongan manusia tertentu saja yang mendapatkan petunjuk di dalamnya, mendapatkan pelajarn dari padanya, mendapatkan manfaat dan menggapai petunjuknya. Mereka itu adalah golongan “muttaqin” yaitu orang-orang yang bertaqwa.[2]
Hal ini sesuai dangan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 2
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (AL-Qur’an) ini tidak ada kerguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”
Selain itu Rasulullah bersabda:

عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه
“Dari Imam Malik, beliau menyampaikan sesungguhnya Rasullah SAW Bersabda: “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kamu takkan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi.”[3]
           Surat Ali Imran ayat 138 juga memerintahkan untuk mempelajari sunnatullah atau yang biasa disebut oleh seorang ilmuwan yang bernama Alexis Carrel sebagai hukum-kukum kemasyarakatan/alam/materi. Hukum-hukum Alam yaitu hukum-hukum  yang bersifat umum dan pasti, tidak ada satu pun, di negeri manapun yang dapat terbebaskan dari sanksi bila melanggarnya. Manusia yang tidak bisa membedakan antara yang halal dan haram, yang baik dan buruk, mereka akan terbentur oleh malapetaka, bencana dan kematian. Ini semata-mata adalah sanksi otomatis, karena kepunahan adalah akhir dari mereka yang melanggar hukum-hukum alam. Tiadk heran hal ini diungkap Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengatur kehidupan masyarakat dan berfungsi mengubah masyarakat dan anggota-anggotanya dari kegelapan menuju cahaya, dari kehidupan negatif menjadi positif.
Pernyataan Allah: (Al-Qur’an) Ini adalah penjelasan bagi manusia  juga mengandung makna bahwa Allah tidak akan langsung menjatuhkan sanksi sebelum manusia mengetahui sanksi itu. Karena terlebih dahulu Allah akan memberikan petunjuk jalan dan peringatan (Hidayah-Nya)[4]
  Melalui ayat 149, Uraian yang diantar oleh ayat sebelumnya yang menguraikan tentang adanya Sunnatullah atau hukum alam yang berlaku kepada manusia. Kalau pada perang uhud Kaum Muslimin tidak meraih kemenangan, bahkan menderita luka dan banyak yang mati syahid, walaupun dalam perang Badar mereka meraih kemenangan dan berhasil menawan dan membunuh sekian banyak lawan mereka, karena itu adalah bagian dari Sunnatullah. Namun demikian, mereka tidak perlu berputus asa. Karena itu, Janganlah kamu merasa lemah, menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan jasmaninya dan janganlah kamu bersedih hati akibat apa yang kamu alami perang Uhud, atau peristiwa lain yang serupa, tapi kuatkan mentalmu untuk berusaha yang lebih baik. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya) di sisi Allah baik di dunia maupun akhirat, di dunia karena kamu memperjuangakan kebenaran dan di akhirat karena kamu akan mendapatkan surga. Jadi mengapa kamu bersedih hati sedangkan yang gugur diantara kamu akan menuju surga dan yang luka akan mendapat luka akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Ini jika kamu (benar-benar) beriman, yakni jika keimanannya benar-benar mantap dalam hatinya[5]
Maka dari itu, kamu tidaklah perlu bersikap lemah dan bersedih hati atas apa yang menimpamu dan luput darimu karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya. Aqidahmu lebih tinggi karena kamu hanya menyembah kepada Allah saja. Sedangkan mereka menyembah kepada selain Allah. Maka jika kamu benar-benar beriman maka kamu akan ditinggikan derajatnya dan tidak akan mersa sedih karena semua itu adalah sunnatullah yang bisa ditimpakan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Akan tetapi, hanya kamulah yang akan mendapat akibat (balasan kebaikan) setalah berijtihad dan berusaha keras dalam menempuh ujian.[6]
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:           

 الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَان  
“Orang mu’min yang kuat (hatinya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mu’min yang lemah dan didalam keduanya terdapat kebaikan (karena sama-sama beriman), dan bersemangatlah atas apa-apa yang akan bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu berputus asa dan jika kamu sedang mendapat  cobaan maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat seperti ini dan seperti itu” akan tetapi katakanlah “ini semua adalah kuasa Allah dan merupakan kehendak-Nya” karena sesungguhnya mengandai-andai akan membuka (pintu) godaan dari perbuatan syetan.”[7]
            Dari penjelasan ayat di atas, kami dapatkan berbagai peringatan bagi orang-orang yang bertakwa. Hal ini dapat kita jadikan pelajaran karena musibah yang menimpa kaum muslimin dalam perang uhud adalah karena mereka tidak memenuhi ketntuan-ketentuan yang ditetapkan Allah untuk mencapai kemenangan. Dalam ayat ini kita sebagai ummat islam dilarang untuk bersikap lemah dan kecewa,karena kita lebih tinggi derajatnya jika kita benar-benar beriman.mengandung perintah untuk melakukan persiapan, menyediakan segala sesuatunya termasuk dengan tekad dan semangat yang benar., di samping keteguhan hati dan tawakkal kepada Allah. Supaya kita bisa meraih keberhasilan dan mendapatkan apa yang kita inginkan, seta dapat mengembalikan kerugian atau kegagalan-kegagalan yang telah diderita

B. Surat Al-fath 28
   1. Ayat 28
هوالذي ارسل رسوله بالهدي ودين الحق ليظهره علي الدين كله وكفي بالله شهيدا
Artinya:
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagi saksi.”
  2. Daftar Istilah dan Analisis Tiap Ayat.
Penggalan Ayat diatas memiliki ikatan dengan ayat-ayat sebelumnya. Ketika kami mengkaji  daftar istilah dari ayat:
ليظهره علي الدين كله---Li Yuzhirahu ‘alad Dini Kullihi :
Penggalan ayat ini menjelaskan akan kuasa Allah, meninggikan agama islam atas seluruh agama yang lain, baik agama yang benar maupun yang batil. Al-Izhar pada asalnya berarti menjadikan sesuatu menonjol dan tampak bagi orang yag melihat, namun kemudian tersebar penggunaanya dalam arti meninggikan.
Ayat ini  menguraikan pengetahuan Allah yang rinci mengenai segala sesuatu. Di sini timbul kembali pertanyaan dalam benak kaum muslimin menyangkut mimpi Nabi ketika beliau berada di Madinah sebelum berangkat ke Hudaybiyah. Ketika itu beliau bersama sahabat- sahabatnya memasuki bait Al-haram dan berumrah dalam keadaan aman. Di antara mereka ada yang mencukur seluruh rambut dan di antaranya ada pula yang hanya memendekkan rambutnya saja. Maka hal itubeliau beritakan kepada sahabat hingga mereka gembira dan menyangka, bahwa mereka dapat masuk ke Makkah pada tahun itu. Maka tatkala mereka mengetahui tidak dapat memasuki kota Mekah, maka hal itu menjadikan mereka bersedih hati. Karena mereka semua harus kembali ke Madinah tanpa berumrah. Nah, ayat di atas menjelaskan apa yang terlintas dalam benak kaum muslimin itu dengan menyatakan: sesungguhnya Allah bersumpah bahwa Allah pasti akan membuktikan kepada Rasul-Nya yakni Nabi Muhammad saw. Tentang kebenaran mimpi yang diwahyukan Allah kepadanya dengan sebenarnya sesuai dengan keyataan yaitu bahwa sesungguhnya kamu wahai sahabat-sahabat Nabi yang diajaknya ke Hudaybiyah pasti akan memasuki Masjidil al-Haram, insya Allah kedaan aman, yakni ketika kamu memasukinya kamu tidak mrasa takut dari siapapun kecuali  kepada Allah. Sebagian dari kamu akan memasukinya dengan mencukurhabis rambutkepala kamu dan sebagian lainnya memendekan rambut mereka engan mengguntingnya sedang kamu untuk masa datang juga tidak akan merasa takut walau pelaksanaan umrah itu telah selesai. Sesungguhnya Allah mengetahui kebajikan yang kamu raih akibat tertundannya pelaksanaan umrah kammu setahun lamanya, maka demikian sekali lagi terbukti bazhwa Allah mengetahui segala apa yang  tidak kamu ketahui nseperti penge-Nya tentang masa dan faktor-faktor yang mengundang kemenangan dan Dia menjadikan yakni memberi kamu – sebelumnya yakni sebelum memasuki Masjid al-Haram kemenangan yang dekat yaitukemenangan dalam perang khaibar dan kemenangan-kemenangan dalam keberhasilan dakwah islamiah. Dia-lah tidak ada selai-Nya yang mengutusRasul-Nya dengan membawa petunjuk yang sempurnadan agama yang haq yang petunjuknya semua benar, informasinyapun sesuai dengan kenyataan, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama melalui argumentasi-argumentasinya yang sangat akurat serta jumlah ummat-Nya yang sangat besar. Dan cukuplah bagi Allah sebagai saksi menyangkut hal ini.
Dari penafsiran ayat di atas Allah menekankan kalimat ( ا نشاء الله)insya Allah/jika dikehendaki Allah yang merupakan firman-Nya dalam konteks memasuki Masjid al-Haram –kalimat itu merupakan isyarat bahwa tidak ada sesuatu yang dapat membebani Allah dengan suatu kewajiban. Semua terlaksana atas kehendak-Nya yang mutlak- yakni kalau Dia berkehendak. Di sisi lain ini merupakan pengajaran kepada manusia tentang “keharusan” mengucapkan insya Allah – walau yang bersangkutn telah yakin sepenuhnyatentang rencana yang akan dia lakukan. Allah sendiri yang tidak tehalangi oleh apapun mengucapkan insya Allah apalagi makhluk yang memiliki aneka kelemahan dan yang wujud rencananya berhubungan dengan aneka sebab, sebagian besar diantaranya beradadi luar kekuasaan dan kemampuan sang makhluk. Di sisi lain, perlu diingat bahwa kalimat insya Allah, di samping diucapkan dalam arti syarat sehingga apa yang direncanakan bersyarat dengan kehendak Allah, dapat juga diucapkan dalam rangka “keberkahan”. Sehingga walau Anda bertekad untuk melakukan sesuatu, Anda tetap harus mengucapkannya,dalam konteks memperoleh keberkahan.
Kesedihan yang dialami kaum muslimin sempat ditampik oleh perkataan orang-orang munafik. Mereka berkata: “Manakah mimpi yang dilihat Muhammad itu.?” Maka Allah Ta’ala pun menurunkan ayat ini, dengan maksud akan dimenangkannya kaum muslim dalam janji Allah, melalui firmannya. Dan sesungguhnya Allah pasti membuktikan kepada rasul-Nya Muhammad saw.kenenaran mimpinya yang telah Dia perlihatkan kepadanya bahwa dia memasuki bersama sahabat-sahabatnya Baitul Haram dalam keadaan aman tidaka merasa takut kepada orang-orang musyrik. Namun Allah SWT, mengetahui di Mkah itu terdapatorang-orang mukmin laki-laki maupun perempuan yang tidak diketahui oleh orang-orang mukmin yang lain dan sekiranya mereka memasuki kota tersebut pada tahun ini niscaya mereka akan menginjak mereka dengan kuda atau dengan kaki mereka, sehingga karenanya mereka akan mendapatkan cela tanpa mereka mengetahui. Oleh karena itu, Allah mencegah mereka dari kota Mekah dengan alasan tersebut. Dalam hala ini. Thabathaba’i memahami firman-Nya: “maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia menjadikan sebelumnya, kemenangan yang dekat”. Dalam artiAllah lebih mengetahui maslahat dalam maksudnya kamu ke Masjid al-Haram dalam keadaan aman – pengetahuan – yang kamu tidak ketahui, karena itu Yang Maha Kuasa mmenjadikan sebelum kamu memasuki kota Mekah ialah satu fath/kemenangan yakni melalui perjanjian Hudaybiyah. Dengan jalan inilah, kaum muslim akan lebih mudah memasuki Mekah tanpa ada peperangan. Dalam mimpi Muhammad Allah telah membuktikan kebenarannya. Dengan cara Allah menundanya dan mendahulukan kemenangan dalam Perjanjian Hudaibiyah agar kamu dapat memasukinya, karena Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat masuk dengan aman kecuali melalui proses perjanjian hidaibiyah.
Firman-Nya: (كفي با لله شهيداkafa bi Allahi syahidan/cukuplah Allah sebagai saksi, kesaksian-Nya itu antara lain melalui mukjizat-mukjizat al-Qur’an yang ditantangkan kepada manusia dan yang ternyata mereka tidak mampu melayani tantangan itu. Pemaparan mukjizat serupa dengan firman Allah: “sungguh benar hamba-Ku yang menampilkan mukjizat ini.”
Dan lafadz (الهدي) al-huda dapat dipahami dalam arti petunjuk al-Qur’an dan (دين الحق) din al-haqq/agama yang benar adalah yang lebih umum dari petunjuk al-Qur’an yaitu tuntunan Rasul saw. Bisa juga al-huda dipahami dalam arti prinsip-prinsip ajaran agama yaknu akidah dan akhlak, sedang din al-haqq adalah ketetapan-ketetapan hukum agama. Demikian ibnu ‘Asyur mengungkapkan.
Sayyid Quthub mengomentari firman-Nya: (ليظهره علي الدين كله) liyuzhhirahu ‘ala ad-din kullih(i)/ agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, bahwaagama Allahtelah berjayabukan saja di jazirah Arab, bahkan di seluruh persada dunia sebelum berlalu setengah abad dari turunnya yat ini. Agama ini berjaya di Persia, pada masa imprium persia, dan dalam wilayah yang cukup luas pada masa imperium kaisar Romawi. Demikian juga di India, Cina, Asia Tenggara, di Melayu dan Indonesia. Wilayah-wilayah tersebut adalah bagian terpenting daripersada bumi ini sejak abad ke enam dan pertengahan abad ke tujuh Masehi.
Dari penjelasan-penjelasan ayat di atas telah terbukti janji Allah sungguh nyata, tidak ada yang dapat melampaui atas pengetahuan Allah Sang Pencitayang tahu segala yang ada di Bumi dan langit. Begtupun Allahlah yang menjadi saksi atas apa yang telah Dia janjikan, yaitu meluhurkan agama-Nya atas semua agama apa pun yang lain tanpa diragukan lagi.
C. Surat Al-hajj 41
            AL HAJJ AYAT 41
الذين ان مكنهم في الارض اقامو االصلوة واتواالزكوة وامروابالمعروف ونهواعن المنكر.
Artinya:
“orang_orang yang jika kami teguhkan kedudukan di muka bumi, niscaya mereka      mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf  dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, dan kepada Allahlah kembali segala urusan”.
  1. Asbabun Nuzul

Ketika kaum musyrikin mulai melancarkan penindasan terhadap Rasulullah dan para sahabat maka diantara para sahabat ada yang hijrah ke habasyah dan ada yang ke madinah. Bahkan tidak jarang diantara mereka disiksa dan dibunuh. Ketika Rasulullah SAW telah menetap di Madinah maka kota itu menjadi kota muslim yang aman sentosa dalam kondisi yang seperti itu, maka Allah SWT menurunkan Q.S. Al-hajj : 41 ini sebagai perintah untuk berjihad menghancurkan kaum musyrikin dan Allah akan selalu melindungi serta memberikan pertolongan kepada kaum muslimin.
Ayat ini juga diturunkan sehubungan Umar bin Affan dan kawan-kawan dari kalangan sahabat Nabi yakni mereka selalu mendirikan sholat,menunaikan zakat dan amar makruf  nahi mungkar dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal, rela berjuang demi agama.

  1. Tafsir Mufrodat

Al-makruf : sesuatu yang baik menurut pandangan umum masyarakat selama sejalan dengan Al-Khoir.
Al-mungkar : sesuatu yang dinilai buruk oleh suatu masyarakat serta bertentangan dengan nilai-nilai Illahi.
Adapun Al-makruf yang merupakan kesepakatan umum masyarakat ini sewajarnya di perintahkan, demikian juga Al-mungkar seharusnya dicegah.

Dengan konsep makruf, Alqur’an membuka pintu yang cukup lebar, guna menampung perubahan nilai-nilai dari perkembangan positif saja dalam masyarakat bukan untuk perkembangan negatifnya. Adapun mungkar  yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pandangan tentang muruah, identitas dan integrita seseorang. Maka sangat tepat khususnya pada era yang ditandai oleh pesatnya informasi serta tawqaran nilai-nilai untuk selalu mempertahankannilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yanhg lebih baik.

  1. Isi/kandungan
Dalam ayat-ayat Allah mengetengahkan bahwa kaum musyrikin menghalang-halangi manusia dari memeluk agama Allah (islam).

ان الله يدافع عن الذينن اامنوا
Sesungguhnya Allah melindungi hambanya yang bertawakkal dan kembali kepada-Nya dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya orang-orang durhaka, memelihara dan menolong mereka atas musuh, serta menuliskan kemenangan mereka atasnya. Sebagaimana firmanNya :

ان لننصررسلنا والذ ين امنوا
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman”.
Allah mensyari’atkan  kepada kaum mu’min untuk berperang setelah hijrah ke madinah, karena ketika mereka berada di makkah, jumlah kaum musyrikin lebih banyak dibanding kaum mukminin, sehingga mereka diusir dari makkah, serta bermaksud untuk membunuh Nabi. Merekapun sebagian ada yang berhijrah ke habsyah dan yang lain ke madinah.
Setelah Rasulullah dan para pengikutnya datang di madinah, penduduk madinahpun bersatu dengan beliau dan bangkit membela beliau dan negerinya (madinah)  yang menjadi negeri islam dan benteng pertahanan mereka.

Firman Allah yang menunjukkan disyari’atkannya berperang :

اذ ن للذ ين يقا تلون بانهم ظلمواوان الله على نصرهم لقد ير

“Telah Kami izinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnhya Allah benar-benar Maha kuasa menolong mereka itu. (Al-Hajj : 39)

Dan juga disebutkan dalam( Q.S. Muhammad : 4) :

فاذالقيتم اللذ ين كفروافضربب الرقا ب حتى اذاثخخنتموهم فشد واالوثاق فامامنابعدواما فداءحتى تضع الحرب اوزارها

“Apabila kalian bertemju dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka sehingga apabila kalian telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. (Muhammad :4)
Adapun maksud dari Q.S. Al-hajj :39, mereka yang dianiaya orang-orang yang diusia oleh kaum musyrikin dari makkah ke madinah sebagian disiksa dan sebagian yang lain ditawan, tanpa kejahatan  dan tanpa dosa yang mereka perbuat, kecuali karena mereka menyembah Allah semata, tidak sekutu bagiNya.
Orang-orang yang diusir dari kampong halamannya ialah orang-orang yang apabila kami meneguhkan kedudukan mereka didalam negeri, lalu mereka mengalahkan kaum musyrikin dan mereka taat kepada Allah, mendirikan sholat seperti yang di perintahkan kepada mereka, mengeluarkan zakat harta yang telah diberiakn kepada mereka, menyeru manusia untuk mentauhidkan Allah dan taat kepadaNya, serta menyuruh orang untuk mengerjakan apa yang diperintahkan oleh syari’at dan melarang melakukan kemusyrikan serta kejahatan.
Dengan demikian mereka itu tergolong orang-orang yang menyempurnakan dirinya dengan menghadirkan tuhan dan menghadapkan diri kepadanya didalam sholat menurut  kemampuannya, dan mereka menjadi penolong bagi umat-umat mereka dengan menolong orang-orang kafir dan yanhg butuh pertolongan diantara mereka. Disamping itu mereka menyempurnakan orang lain dengan memberikan sebagian ilmu dan adabnya serta mencegah berbagai kerusakan yang menghambat orang lain untuk mencapai akhlak dan adab yang luhur.

  1. Munasabah
Persesuaian surat Al-hajj:39 yaitu dengan Surat Al-mukminin:1-5 yang mana sebagai berikut:
1.   Surat Al-hajj, orang-orang mukmin mendirikan sholat, menunaikan zakat, mengerjakan aneka rupa kebaikan agar mendapat keberuntungan ,sedang permulaan surat al-mukminin menegakkan bahwa orang-orang mukmin bila mereka betul-betul mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarangNya seperti Zina pasti mendapat keberuntungan.
2.      Sama-sama mengemukakan bukti-bukti adanya Allah dan keesaanNya.

Adapun Kesimpulan yang kamu terima dari ayat ini ialah:
1.Allah pasti akan membela orang-orang yang beriman,mengerjakan amal saleh dan membela agama Allah.Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat dan mengingkari nikmat Allah.
2.Allah mengijinkan kaum muslimin berperang adalah untuk mempertahankan diri dan menghapuskan perbuatan zalim yang dilakukan orang-orang kafir terhadap mereka.Izin berperang ini terdiri dari tiga tahap,yaitu izin perang karena dizalimi,perintah perang untuk bela diri secara terbatas,dan perintah perang apabila diperangi.
3.Kaum meslimin yang diperangi oleh kaum musyrik itu,bukanlah karena kejahatan yang telah mereka lakukan,tetapi semata-mata karena menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
4.Izin berperang itu diberikan untuk menolak keganasan orang-orang kafir yang telah berusaha merobohkan rumah-rumah ibadah ,yang didalamnya disebut dan diagungkan asma Allah.
5.Allah pasti menolong oramg-orang yang membela agama-Nya.
6.Orang-orang yang beriman itu jika diberi kekuasaan dimuka bumi,mereka tidak akan berlaku sewenang-wenang,mereka mendirikan salat,menunaikan zakat,menyuruh orang berbuat makruf dan mencegah orang melakukan perbuatan-perbuatan mungkar.
(Al-qur’an dan tafsirnya jilid 6,Jakarta,Departemen agama RI Tahun 2009,Lembaga percetakan Al-qur’an Departemen Agama).

D. Surat Adz-Dzariat 56
            وما خلقت الجن والانس الاليعبدون (سورة الذاريات:56)
Artinya:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepada-Ku.”(Adz-Dzriat:56)
Dalam ayat ini menjelaskan mengapa manusia harus bangkit berlari dan bersegera menuju Allah. Ayat di atas menyatakan: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia untuk satu manfaat yang kembali kepada diri-Ku. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan atau kesudahan aktifitas mereka adalah beribadah kepada-Ku.
Penekanan dalam ayat di sisni adalah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Dan ayat ini adalah penekanan lanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu supaya Rasulullah saw meneruskan memberi peringatan. Sebab peringatan akan besar manfaatnya bagi orang yang beriman. Sehingga turunlah ayat ini, sebagai pengingat untuk beribadah kepada-Nya. Apabila seseorang telah mengakui keimanannya maka tidak mustahil baginya melakukan hal-hal yang menyangkut pengabdian kepada-Nya, dia akan merasa sgala pekerjaan yangdilakukan di bumi ini, tidak lain sebagai ibadah lillah. Sehingga ia akan merasa rugi bila menyisakan waktu dengan kegiatan yang tidak berguna.
Menilik penjelasan istilah ayat di atas dalam penyebutan kata (الجن) al-jinn/jin dari kata (الانس) al-ins/manusia karena memang jin lebih dahulu diciptakan Allah dari pada yang manusia.
Huruf (ل) lam pada kata (ليعبدون) li ya’budun bukan berarti agar supaya mereka beribadah atau agar Allah disembah. Huruf lam di sini sama dengan huruf lam pada firman-Nya: (فا لتقطه ءال فرعون ليكون لهم عدواوحز نا)  faltaqathahu alu fir’auna liyakuna lahum ‘aduwwanwa hazanan (QS. Al-Qashash:8). Bila huruf lam pada kata liyakun dipahami dalam arti agar supaya, maka ayat di atas berarti: maka dipungutlah dia oleh keluarga Fir’aun agar supaya dia Musa yang dipungut itu menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka.
Memang tidak mungkin huruf lam ituberarti agar supaya, karena tentu tidak ada yangmengambil dan memelihara musuhnya. Tujuan Fir’aun ketika menyetujui usul istrinya agar mengambil Musa adalah agar menjadi penyejuk mata mereka, serta untuk memanfaatkan dan menjadikannya sebagai anak. Tetapi kuasa Allah menjadikan musuh memelihara musuhnya sendiri.
Huruf lam pada kata (ليكون) liyakuan pada ayat al-Qashash tersebut demikian juga pada kata (ليعبدون) li ya'budun pada ayat di atas dinamai oleh pakar bahasa lam al-aqibah, yakni yang berarti kesudahan atau dampak dan akibat sesuatu.
ibadah bukan hanya sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa  keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ia juga merupakan dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakikatnya.[8]
Ibadah terdiri dari ibadah murni (mahdhah) dan ibadahtidak murni (ghairu mahdhah. Ibadah mahdhahadalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Ibadah ghairu mahdhah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hubungan seks pun dapat menjadi ibadah, jika itu dilakukan sesuai tuntunan agama. Nah, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menghendaki agar segala aktivitas manusia dilakukannya demi karena Allah yakni sesuai dan sejalan dengan tuntunan petunjuk-Nya.
Dari Thabathaba’i menulis: “jika Anda berkata bahwa menjadikan lam pada kata li ya’budun sebagai bermakna agar  supaya/tujuan, maka itu berarti tujuan ibadah adalah Allah menciptakan manusia dan tentu mustahil tujuan yang dikehendaki-Nya tidak tercapai. tetapi dalam kenyataan banyak sekali yang tidak beribadah kepada-Nya. Ini adalah bukti yang sangat jelas bahwa huruf lam pada ayat di atas bukan dalam arti agar supaya atau mengandung makna tujuan, atau kalaupun ia mengandung makna tujuan maka yang dimaksud dengan ibadah adalah ibadah dari segi penciptaan (bukan dari segi taklif/pembebanan tugas) seperti firman-Nya: “Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dangan memuji-Nya”. (QS.ai-Isro’:44). Atau yang dimaksud dengan menciptakan mereka untuk beribadah adalah menciptakan mereka memiliki potensi untuk beribadah yakni menganugrahkan mereka kebebasan memilih, akal dan kemampuan. Ini sering kali digunakan oleh pengguna bahasa seperti menyatakan: “kerbau diciptakan untuk membajak, atau rumah untuk dihuni.”
Dari penuturan Thabathaba’i, tentang keberatannyadalam menjelaskan lam ditangkis oleh ulama’ lain. Dia menulis bahwa realita sesungguhnya, banyak sekali yamg tidak beribadah kepada-Nya – dapat dibenarkan bahwa yang dimaksud dengan alif dan lam yang kata (الجن والانس) al-jinn wa al-ins/jin dan manusia adalah alif dan lam yang berarti lil istghroq (kesemuanya tanpa terkecuali). Sebenarnya ia bukan lil istighraq tetapi lil jins sehingga adanya sebagian dalam jenis kedua makhluk itu yang beribadah sudah cukup untuk menjadikan tujuan penciptaan mereka adalah beribadah, walau sebagian yang lain tidak beribadah. Sebagaiman Allah SWT mempunyai tujuan dalam penciptaan-Nya bagi jenis manusia sebagaimanpun Dia mempunyai tujuan bagi setiap anggota jenis itu.
Selanjutnya Thabathaba’i berpendapatbahwa menjadikan makna ibadah pada ayat di atas dalam arti ibadah takwiniyah (bukan dari segi taklif), maka inipun tidk tepat karena itu adalah sikap semua makhluk. Denngan demikian tidak ada alasan untuk menjadikan ayat di atas menetapkan tujuan tersebut hanya bagi jin dan manusia, apalagi kontteks ayat ini adalah kecaman kepada kaum misyrikin yang enggan beribadah kepada Allah dengan mematuhi syari’at-Nya. Ayat ini dikemukakan dalam konteks ancamanperhitungan Allah serta balasan dan ganjaran-Nya, dan itu semua berkaitan dengan ibadah taklifiyah yang disyariatkan bukan takwiniyah. Di konteks ini Thabathaba’i menjelaskan bahwa ibadah yang dimaksudadalah kehadiran di hadapan Allah Rabbul ‘Alamin dengan kerendahan diri dan penghambaan kepada-Nya, serta kebutuhan sepenuhnya kepada Tuhan Pemilik kemuliaan mutlak, dan kekayaan murni, sebagaimana dipahami dalam firman-Nya:
قل ما يعبا بكم ربي لو لا دعاؤكم  (سورة الفرقان :77 )                                                                                                 
Artinya:
            “Katakanlah: “Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, tanpa ibadah kamu.”(QS. al-Furqan: 77). Hakikat ibadah adalahmenempatkan diri seseorang dalam kedudukan kerendahan dan ketundukan serta mengarahkannya ke arah maqam Tuhannya.
            Dari ayat di atas, sangat singkat namun mngandung hakikat makna yang agung. Manusia tidak akan dapat hidup tanpa menyadari maksud atau pun tujuandari apa kehidupan itu. Baik kehidupan pribadi maupun kolektif. Begitu jelas tentang penegasan ayat di atas agar kita beribadah kepadaAllah sebagai penghamaan kepada-Nya.
            Adapun hakikat ibadah mencakup 2 hal. Pertama: Kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan.kemantapan perasaan bahwa ada hamba dan ada Tuhan, hamba yang patuh dan Tuhan yang disembah (dipatuhi). Tidak selain-Nya, tiada dalam wujud ini kcuali satu Tuhan dan selain-Nya adalah hamba-hamba-Nya. Kedua: Mengarah kepada Allah dengan setiap kepada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup. Semuanya hanya mengarah kepada Allah secara halus. Melepaskan diri dari segala makna selain makna penghambaan diri kepada Allah.
            Di dalam ayat ini, sebagai peringatan kepada manusia, bahwa sadar maupun tidak dia pasti mematuhi kehendak Tuhan. Maka jalan tang lebuh baik bagi manusia ilah menginsafi kegunaan hidupnya, sehingga dia pun tidak merasa kberatan lagi mengerjakan berbagai ibadat kepada Tuhan.
            Sesungguhnya ibadat itu dimulai dengan IMAN. Yaitu percaya bahwa adaTuhan yang menjamin kita. Percaya akan adannya Allah ini sja, sudah jadi dsar pertama dari hidup itu sendiri. Maka iman yang tumbuh itu, wajib dibuktikan dengan amal shalih, yaitu perubatan yang baik. Ketahuilah Iman dan Amal shalih inilah pokok ibadat.
            Ayat-ayat yang kami analisis ini, sesungghnya memiliki pertalian denngan ayat-ayat sebelumnya. Sebagai penjelas akan kewajiban bagi ummat-Nya menjalankan Dakwah di jalan Allah tanpa henti, meskipun telah dituduh sebagai penyihir atau orang gila. Janganlah memperdulikan perkataan mereka, tetaplah kita bangkit menyebarkan kebenaran dan memusnahkan kebathilan. Karna dakwah adala tugas utama kita sebagai ummat Muslim, tak lain dari itu, kewajiban dari beribadah merupakan pertalian antara dakwah. Dimana kita diperintahkan untuk beribadah, contoh melalui dakwah. Tanpa kita sadari, telah mengabdikan diri kepada Yang Maha Esa dengan menyiarkan agama yang benar. Gunakanlah hidup yangsingkat ini dengan perbuatan shalih walau tidak dapatsesempurna Nabi, kita telah berusaha mengisi hidup kita dengan Iman dan Amal shalih (shadaqah jariyah) yang akan abadi sepanjang zaman.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.     Dari penjelasan ayat Ali imron di atas, kami dapatkan berbagai peringatan bagi orang-orang yang bertakwa. Hal ini dapat kita jadikan pelajaran karena musibah yang menimpa kaum muslimin dalam perang uhud adalah karena mereka tidak memenuhi ketntuan-ketentuan yang ditetapkan Allah untuk mencapai kemenangan. Dalam ayat ini kita sebagai ummat islam dilarang untuk bersikap lemah dan kecewa,karena kita lebih tinggi derajatnya jika kita benar-benar beriman.mengandung perintah untuk melakukan persiapan, menyediakan segala sesuatunya termasuk dengan tekad dan semangat yang benar., di samping keteguhan hati dan tawakkal kepada Allah. Supaya kita bisa meraih keberhasilan dan mendapatkan apa yang kita inginkan, seta dapat mengembalikan kerugian atau kegagalan-kegagalan yang telah diderita.
2.    Dari penjelasan-penjelasan ayat di atas telah terbukti janji Allah sungguh nyata, tidak ada yang dapat melampaui atas pengetahuan Allah Sang Pencitayang tahu segala yang ada di Bumi dan langit. Begtupun Allahlah yang menjadi saksi atas apa yang telah Dia janjikan, yaitu meluhurkan agama-Nya atas semua agama apa pun yang lain tanpa diragukan lagi.
3.  Allah pasti akan membela orang-orang yang beriman,mengerjakan amal saleh dan membela agama Allah.Allah tidak menyukai orang-orang yang khianat dan mengingkari nikmat Allah.
Allah mengijinkan kaum muslimin berperang adalah untuk mempertahankan diri dan menghapuskan perbuatan zalim yang dilakukan orang-orang kafir terhadap mereka.Izin berperang ini terdiri dari tiga tahap,yaitu izin perang karena dizalimi,perintah perang untuk bela diri secara terbatas,dan perintah perang apabila diperangi.
Kaum muslimin yang diperangi oleh kaum musyrik itu,bukanlah karena kejahatan yang telah mereka lakukan,tetapi semata-mata karena menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
4.Izin berperang itu diberikan untuk menolak keganasan orang-orang kafir yang telah berusaha merobohkan rumah-rumah ibadah ,yang didalamnya disebut dan diagungkan asma Allah.
5.Allah pasti menolong oramg-orang yang membela agama-Nya.
6.Orang-orang yang beriman itu jika diberi kekuasaan dimuka bumi,mereka tidak akan berlaku sewenang-wenang,mereka mendirikan salat,menunaikan zakat,menyuruh orang berbuat makruf dan mencegah orang melakukan perbuatan-perbuatan mungkar.




  

DAFTAR PUSTAKA
·         Mushthafa Ahmad Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi 26. (Mesir: Mustafa Al-Bab Al-Halabi). Toha Putra. Semarang, 1993.
·         Hamka. Tafsir  Al-Azhar juz IV. Pustaka Panjimas. Jakarta, 1983.
·         Quraish M. Shihab. Tafsir AL-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Lentera Hati, Jakarta, 2002
·         Departemen Agama RI Tahun 2009.Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid II ( Departemen Agama RI: Jakarta, 2009).



[1] Depertemen Agama RI. Al-Qur’an dan Tafsirnya. Jilid II. (Jakarta  2009.) hal. 47-48.
[2] Sayyid Quthb, Dalam NaunganAl-Qur’an ( Fi Zhilalil Qur’an). Juz II (Jakarta:Gema Insani Press,2001)  hal. 167
[3] Malik bin Anas, Al-Muwatha’. Juz V hal.371
[4] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah. Juz II (Jakarta:Lentera Hati,2002) hal.225
[5] Ibid hal.226-227
[6] Sayyid Quthb, Op.Cit. hal.167-168
[7] Imam Muslim, Shahih Muslim. Juz 13 Hal.142
[8] Tulis Syaikh Muhammad ‘Abduh