Sabtu, 29 Juli 2017

Membangun Generasi Muda yang Super Intelektual, Spiritual, dan Emotional

MAKALAH
Membangun Generasi muda yang super intelektual, spiritual and emotional
Makalah ini diajukan sebagai syarat memenuhi tugas UAS matakuliah Ilmu Sosial
Dosen Pembimbing:
Bpk. Saiful Bahar



Disusun  Oleh:
Rif’atul Khoiriah Malik
FAKULTAS  DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL JADID
PAITON PROBOLINGGO
JANUARI  2013

KATA PENGANTAR

Dengan rasa syukur Alhamdulillah atas taufiq, hidayah dan inayahnya, sehingga makalah ini diselesaikan dengan baik, meskipun banyak kekurangan di dalamnya, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan  semata.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan cahaya yang terang benderang kepada seluruh umat manusia.
Dan tidak lupa  pula ucapan terima kasih kepada:
1.      Jajaran pengasuh Pondok-Pesantren Nurul Jadid.
2.      Bpk. Saiful Bahar selaku Dosen Pembimbing
3.     Semua pihak yang telah membantu secara moral ataupun material sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan waktu yang telah di tentukan
4.      Dan terkhusus untuk orang tua yang telah membantu dengan do’anya.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik penulis sangat harapkan guna sempurnanya penyusunan makalah ini dan semoga rahmat dan ridho-Nya makalah ini dapat berguna bagi kita semua amin.

                                                                                          Paiton, 11 Januari 2013

                                                                                           Penulis


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Menurut Soerjono Soekarto, masalah social (social problem) adalah ketidaksamaan  antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok social. Adapun menurut J.L. Gillin dan J.P. Gillin, masalah social adalah ketidak sesuaian yang akan menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok social tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan social.
Dari beberapa definisi di atas, penulis mulai mengenal apa yang terletak dalam masalah social yang kita kenal dalam bahasa English social problem. Sebelum meriset lebih lanjut tentang permasalahan social yang dihadapi penulis di daerah Sulawesi tenggara, tepatnya Kendari. Dari berbagai pengalaman pribadi maupun pengetahuan umum, sangatlah mudah bagi wilayah yang tidak berpegang erat dengan syari’at masuk dalam lubang kemunafikan.
Banyak yang saya ketahui dalam pola perkembangan masyarakat Kendari lebih mengutamakan kehidupan antar suku, dari beragam suku yang berbaur di dalamnya suku Buton, suku Tolaki, suku Bugis, suku Muna dan masih banyak lagi, berdampak pada rasa toleransi antar suku yang menyebapkan kerukunan tetap berjalan di dalamnya. Namun lain dari pada itu, pengetahuan keagamaan di dalamnya tidaklah meluas sebagaimana kepulauan Jawa menerapkan ritual keagamaan setiap mengadakan perjamuan. Inilah yang menjadi topic utama penulis, sebagaiman pengetahuan keagamaan sangatlah berperan penting untuk membangun karakteristik generasi muda sebagai generasi yang berakhlakul karimah dan berpengetahuan luas.
Pesantren yang menjadi pusat pendidikan akhlakul karimah telah terkikis dalam lingkup wilayah Kendari, dikarenakan pemahaman yang belum memadai untuk menindaklanjuti pendidikan anak kepada jenjang ilmu pengetahuan agama. Meski ilmu pengetahuan telah dikuasai, namun ilmu keagaam tidak diketahui sama sekali, maka jalan buntu yang akan ia dapatkan. Karna shirot (jalan) yang seharusnya menjadi sandarannya diterpa oleh keangkuhan yang bersumber dari sifat syaithani. Olek karna itu, perlu ditanamkan dalam diri seseorang kecerdasan intelektual, spiritual, dam emotional. Sehingga, dengan ketifa kecerdasan itu mampu membangun karakter bangsa yang berjiwa besar.
Ada banyak lagi yang akan dibahas penulis dalam makalah ini, berbagai macam asumsi dasar masalah social, pembagian kelompok social problem disandarkan dengan problem solving yaitu jalan keluar dari masalah. Ini semua akan dibahas secara spesifik oleh pemakalah.

B.     Rumusan Masalah
Dalam mengalami krisis perkembangan social yang menjadikannya sumber permasalahan social, membawa kita untuk mengetahui sampai tingkat mana permasalahan itu dapat dipecahkan. Berikut rumusannya:
1.      Apa yang dimaksud dengan masalah social?
2.      Sebutkan klasifikasi masalah social yang dikemukakan oleh Stark (1975)
3.      Jelaskan masalah yang telah melanda kota Anda?
4.      Bagaiman problem solving  untuk mengatasi masalah itu agar mampu teratasi?

C.    Tujuan Permasalah
Setiap langkah kita mengenal visi maupun misi, oleh karena itu penulis merancang tulisan ini tidak lain untuk:
1.      Mengenal masalah yang telah melanda daerah kelahiran
2.      Mengedintifikasikan masalah-masalah yang telah terjadi dalam ranah social.
3.      Memberikan solusi untuk mencegah terjadinya masalah yang berkepanjangan.
4.      Memahami masalah social maupun problem social yang akan menjadi tanggungan sebagai generasi muda.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Masalah Sosial
Blumer (1971) dan Thompson (1988) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau dinyatakan oleh suatu entitas yang berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak kepada sebagian besar anggota masyarakat dan kondisi itu diharapkan dapat diatasi melalui kegiatan bersama. Entitas tersebut dapat merupakan pembicaraan umum atau menjadi topik ulasan di media massa, seperti televisi, internet, radio dan surat kabar.
Jadi yang memutuskan bahwa sesuatu itu merupakan masalah sosial atau bukan, adalah masyarakat yang kemudian disosialisasikan melalui suatu entitas. Dan tingkat keparahan masalah sosial yang terjadi dapat diukur dengan membandingkan antara sesuatu yang ideal dengan realitas yang terjadi (Coleman dan Cresey, 1987).
Masalah social adalah ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok social. Masalah social timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok social yang bersumber pada fakor ekonomis, biologis, psikologis dan kebudayaan.
J.L. Gillin dan J.P. Gillin mengemukakan masalah social adalah ketidak sesuaian yang akan menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok social tersebut, sehingga menyebapkan kepincangan ikatan social.
Kepincangan yang dianggap sebagai masalah social oleh suatu masyarakat tergantung dari system nilai social masyarakat tersebut. Namun, pada dasarnya beberapa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya sama, yaitu sebagai berikut:
1.      Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan di mana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri dengan taraf kehidupan kelompok, serta tidak mampu memanfaatkan tenaga, mental dan fisiknya dalam kelompok tersebut.
2.      Kejahatan
Menurut Edwin H Shuterland, bahwa seseorang berprilaku jahat memiliki cara yang sama dengan yang tidak jahat. Artinya prilaku jahat dipelajari dari interaksi dengan orang lain, dan orang tersebut mendapatkan prilaku jahat sebagai hasil interaksi yang dilakukannya terhadap orang-orang jahat yang cenderunng berprilaku melawan norma-norma hokum yang ada.
3.      Disorganisasi Keluarga
Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga sebagai unit karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya sesuai dengan peranan sosialnya. Secara sosiologis bentuk dari disorganisasi keluarga adalah sebagai berikut:
a)      Unit keluarga tidak lengkap karena hubungan di luar perkawinan.
b)      Disorganisasi keluarga karena putusnya perkawinan akibat perceraian, pisah ranjang dan sebagainya.
c)      Adanya kekurangan dalamkuluarga tersebut, yaitu dalam hal komunikasi antaranggotanya.
d)     Krisis keluarga yang disebabkan faktor internal
e)      Krisis keluarga karena kepala keluarga meninggalkan  rumah.
4.      Masalah Generasi Muda dalam Masyarakat Modern
Masalah ini ditandai adanya keinginan untuk melawan dan sikap apatis. Kondisi ini sering dinamakan kenakalan remaja. Istilah ini sering dinamakan juvenile delinquency atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda. Gejala ini merupakan gejala patologis yang secara social pada anak remaja disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian social, sehingga mereka mengembangkan bentuk tingkahlaku yang menyimpang. Dilenquency, ini selalu mempunyai konotasi serangan, pelanggaran, kejahatan, dan keganasan yang dilakukan oleh anak-anak remaja muda di bawah usia 20 tahun.
Pengaruh social dan cultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkahlaku anak-anak remaja. Secara umum mereka dianggap dalam suatu transisi yang ditandai dengan adanya pergolakan batin pada masa remaja atau adolesens.

B.     Social Problem dalam Ranah Masyarakat Kendari
Untuk memudahkan mengamati masalah-masalah sosial, Stark (1975) membagi masalah sosial menjadi 3 macam yaitu :
1.      Konflik dan kesenjangan, seperti : kemiskinan, kesenjangan, konflik antar kelompok, pelecehan seksual dan masalah lingkungan.
2.   Perilaku menyimpang, seperti       : kecanduan obat terlarang, gangguan mental, kejahatan, kenakalan remaja dan kekerasan pergaulan.
3.    Perkembangan manusia, seperti : masalah keluarga, usia lanjut, kependudukan (seperti urbanisasi) dan kesehatan seksual.
Untuk memahami kepercayaan suatu budaya tidaklah lebih mudah dibanding harus menuliskannya dalam suatu kabar berita, namun yang akan kami singgung di sini ialah pemikiran masyarakat Kendari akan sosialisasi keagamaan di dunia pesantren sangatlah menekan anak dididk dengan berbagai kedisiplinan yang telah diterapkan dalam sebuah pesantren. Ini dikarenakan jalur keagamaan di wilayah Kendari tidaklah seluas wilayah Jawa yang kononnya mayoritas Kyai terdapat di daerah ini. Adapun masalah social yang terjadi di wilayah ini ialah sebagai berikut:
1.      Perkembangan manusia
Dalam proses ini manusia secara umum akan cenderung memenuhi kebutuhan pribadinya sebelum beranjak kepada kepentingan keluarga maupun sosial. Kita kenal dengan tahapan sosialisasi dalam ilmu social, yaitu tahapan secara bertahap untuk memasuki ranah social. Pertama-tama  kita mengenal Preparatory Stage yaitu tahap awal seseorang untuk mengenal lingkungan sosialnya, yaitu dimulai dengan orang-orang terdekat dengan dirinya seperti Ibu, Ayah dan keluarga. Tahapan ini juga merupakan persiapan untuk mengenal dunia sosialnya dan termasuk persiapan untuk pemahaan tentang diri. Adapun tahapan yang kedua, Play Stage dalam tahapan ini anak mulai dari meniru dengan lebih baik lagi atau sempurna. Selain itu anak dapat memahami peranan dirinya serta apa yang diharapkan dari dirinya dan peranan yang dimiliki orang lain. Manganal tahapan selanjutnya yaitu Game Stage, anak mulai bersikap mandiri dan memiliki ego berdasarkan kesadaran sendiri. Tingkat interaksi pada tahap siap bertindak ini meningkat sehingga anak mampu mengambil peranan dalam masyarakat yang lebih luas. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dan menempatkan dirinya semakin jelas, serta kemampuan untuk menerima atau menyesuaikan dengan nilai dan norma yang berada diluar keluarganyapun dapat dijalaninya dengan kesadaran sebagai bagian aktif dari masyarakat. Tahapan yang terakhir ialah Tahap Penerimaan Norma Kolektif, pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya, tetapi juga dengan masyarakat secara lebih luas. Dalam tahapan inilah, manusia dewasa membuat norma-norma yang sesuai dengan akal sehatnya terkadang mereka mengabaikan hati nurani, demi kepetingan kemasyarakat yang mereka yakini. Terkadang hati nuranilah yang menunjukkan seseoarang pada jalan kesucian melalui agama Islam, seperti halnya orang-orang yang melakukan kejahatan dalam ranah social yaitu mencuri, mabuk-mabukan, pelecehan seksual, pembunuhan dan lain sebagainya. Ialah mereka yang mengabaikan bisikan hati untuk menjauhi perbuatan itu. Sebagaiman perbuatan itu telah dikecam dalam agama ialah perbuatan haram dan niscaya Allah akan melemparkannya dalam api neraka yang sangat pedih.
Asumsi dasar yang telah berkembang di penduduk Kota Kendari ialah pendidikan pesantren yang tidak memadai, dengan fakta yang terjadi. Para orangtua tidak memahami arti kedisiplinan maupun kesederhanaan yang ada dalam dunia kepesantrenan. Anak yang tidak mendapatkan perizinan dikala sakit, akan mendapatkan pelayanan dalam BKSM (Balai Kesehatan Masyarakat) dalam pondok, namun dampak yang tejadi para orangtua wali lebih memilih untuk membawa pulang si anak untuk mendapatkan perawatan maksimal di Rumah sakit yang berlabel. Inilah salah satu bentuk ketidak percayaan para orangtua wali akan pelayanan pesantren dan ini terjadi di wilayah Kendari.
Kendari yang terkenal dengan kota bertaqwa tidak menunjukkan dalam kesosialan-nya untuk membawa kehidupan pesantren dalam kesehariannya. Dan menyebaBkan masyarakat lebih terpengaruh dengan budaya-budaya non Islam, dengan mepertunjukkan keseharian yang dimiliki budaya non islam.  Inilah bentuk minimalis dunia pesantren di kalangan masyarakat Kendari.
Untuk mencegah pemikiran masyarakat yang berlandas pada kekurangan ilmu keagamaan, maka perlunya tindakan secara kominikatif untuk mengetahui perkembangan anak dalam lingkungan pesantren, kegiatan taujihat maupun al-irsyad bukan hanya disalurkan pada diri seorang anak tetapi orangtua juga butuh siraman rohani untuk mengenal dunia pesantren. Seminar-seminar kepesantrenan sangatlah pantas untuk memahamkan orang-orang awam dalam pendidikan, sehingga mampu memahami begitu besar peran pesantren dalam pengambangan karakter seorang anak.
2.      Masalah generasi muda dalam masyarakat modern
Sebagaimana yang di jelaskan di atas yaitu kenakalan remaja yang telah merajalela di dunia masyarakat modern kini tidak memandang desa maupun kota yang menjadi pijakannya. Gejala penyimpangan ini terjadi sebagai akibat proses perkembangan pribadi anak yang mengandung unsure dari usaha kedewasaan seksual, usaha pencarian identitas diri, adanya ambisi material yang tidak terkendali dan tidak adanya disiplin diri.
Mengingat masalah kenakalan remaja yang menjadi konsumsi public, menjadikan masyarakat rentan akan penyimpangan yang dianggap biasa. Dan menjadikan penyimpangan ini sebagai produk sampingan atas pendidikan massal yang tidak menekankan pada pendidikan watak dan kepribadian anak, kurangnya usaha orangtua dan orang dewasa dalam menanamkan moralitas dan keyakinan beragama pada anak-anak dan kurang dibutuhkannya tanggung jawab social pada anak-anak remaja. Dikarenakan itu semua, menyebapkan seorang anak terdorong dalam beberapa penyimpangan social, diantaranya:
a)      Memuaskan kecendrungan keserakahan
b)      Meningkatkan agresifitas dan dorongan seksual
c)      Salah asuh dan salah didik orangtua sehingga anak menjadi manja dan lemah mentalnya
d)     Hasrat untuk berkumpul dengan teman senasib dan teman sebayanya serta kesukaan untuk meniru
e)      Pembawaan yang patologis atau abnormal
f)       Konflik batin sendiri, yang kemudian menggunakan mekanisme pelarian serta pembelaan diri secara irasional.
Dari berbagai penyimpangan di atas, seharusnya sebagai generasi  muda kita menyadarinya, sehingga ada rasa tanggung jawab untuk memperbaharui kenakalan remaja yang menjadi permainan social yang tak terkendali.
Untuk itu, pendidikan watak dan kepribadian anak sangatlah penting untuk diterapkan dalam ranah pendidikan. Dewan pendidikan Negara, penting untuk memperhatikan kemerosotan pendidikan akhlak bagi para peserta didik. Dan sebaiknya medirikan “tarbiyah al-Akhlak” di setiap wilayah, sehingga anak-anak maupun orangtua yang tidak mengenal akhlak dapat diikut sertakan dalam program ini.
Peran orangtualah yang mendominasi tingkah laku anak, jika orangtua tak mampu mebina anak bahkan tidak memiliki waktu dalam melihat perkembangan anak, maka tidaklah pantas ia di beri gelar orangtua. Ia berdiri hanya sebagai wali dan bukan orangtua, karna orangtua sangatlah besar tanggungannya sebagai pendidik utama. Dan bahkan dunia akhirat mereka sangat berperan untuk mempertanggungjawabkan kewajibannya sebagai orangtua.
C.    Mendayagunakan Problem Solving
 Setelah meneliti beragam masalah social yang terjadi di wilayah Kendari, sebagai penulis saya akan mendayagunakan problem solving, dengan tujuan mencegah masalah-masalah social yang berlarut dan itu semua akan merusak karakter bangsa yaitu sebagai bangsa yang cinta damai. Sungguh berbagai analisis dan metode telah diterapkan manusia untuk mengatasi berbagai masalah social. Berikut metode pemecahan masalah social yang kami temukan, ialah sebagai berikut:
1.      Metode Preventif
Metode preventif  lebih sulit dilaksanakan karena harus didasarkan pada penelitian yang mendalam terhadap sebab-sebab terjadinya masalah.  Dalam metode ini, seseorang harus meneliti lebih mendalam apa yang terjadi dalam lingkup social, dan kemudian menyimpulkan lingkungan social mengalami masalah dan itu perlu pengelompokan masalah sehingga mampu diatasi secara mendalam. Kegiatan preventif  lebih tertuju kepada pencegahan, sehingga kegiatan social tidak mengalami permasalah yang mendalam dan itu sulit untuk mengatasinya. Dalam pribahasapun dikatakan “lebih baik mencegah dari pada mengobati”.
2.      Metode Represif
Dalam metode ini lebih banyak digunakan dalam kalangan masyarakat. Dikarenakan lebih mudah dilaksanakan. Artinya, setelah suatu gejala sudah dipastikan sebagai masalah social, baru diambil tindakan untuk mengatasinya. Metode ini dikenal dengan tahap penyembuhan, jadi segala masalah social yang terjadi dan telah Nampak. Maka bagian pencegah yang berhak maupun yang mampu mengatasi ini, hendaknya bertindak lebih cepat untuk menyembuhkan masalah social yang telah beredar. Seperti halnya anak remaja yang gemar keluar malam dan menjadikan kegiatan ini sebagai konsumsi kejenuhannya, maka pihak yang berwajib yaitu orangtua. Sebagai orangtua, hendaknya mencegah si anak dengan cara tidak memberikan konstribusi fasilitas yang mempermudah keluarnya anak di luar rumah pada malam hari.
Di dalam mengatasi masalah social tidaklah semata melihat dari aspek sosiologis, tetapi juga aspek lainnya, sehingga merupakan suatu kerja sama antara ilmu pengetahuan kemasyarakatan pada khususnya untuk memecahkan masalah social.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
v  Masalah social adalah ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok social. Masalah social timbul dari kekurangan-kekurangan dalam diri manusia atau kelompok social yang bersumber pada fakor ekonomis, biologis, psikologis dan kebudayaan.
v  Untuk memudahkan mengamati masalah-masalah sosial, Stark (1975) membagi masalah sosial menjadi 3 macam yaitu :
1.      Konflik dan kesenjangan, seperti : kemiskinan, kesenjangan, konflik antar kelompok, pelecehan seksual dan masalah lingkungan.
2.      Perilaku menyimpang, seperti         : kecanduan obat terlarang, gangguan mental, kejahatan, kenakalan remaja dan kekerasan pergaulan.
3.      Perkembangan manusia, seperti : masalah keluarga, usia lanjut, kependudukan (seperti urbanisasi) dan kesehatan seksual.
v  Asumsi dasar yang telah berkembang di penduduk Kota Kendari ialah pendidikan pesantren yang tidak memadai, dengan fakta yang terjadi. Para orangtua tidak memahami arti kedisiplinan maupun kesederhanaan yang ada dalam dunia kepesantrenan. Anak yang tidak mendapatkan perizinan dikala sakit, akan mendapatkan pelayanan dalam BKSM (Balai Kesehatan Masyarakat) dalam pondok, namun dampak yang tejadi para orangtua wali lebih memilih untuk membawa pulang si anak untuk mendapatkan perawatan maksimal di Rumah sakit yang berlabel. Inilah salah satu bentuk ketidak percayaan para orangtua wali akan pelayanan pesantren dan ini terjadi di wilayah Kendari.
v  Untuk mencegah pemikiran masyarakat yang berlandas pada kekurangan ilmu keagamaan, maka perlunya tindakan secara kominikatif untuk mengetahui perkembangan anak dalam lingkungan pesantren, kegiatan taujihat maupun al-irsyad bukan hanya disalurkan pada diri seorang anak tetapi orangtua juga butuh siraman rohani untuk mengenal dunia pesantren. Seminar-seminar kepesantrenan sangatlah pantas untuk memahamkan orang-orang awam dalam pendidikan, sehingga mampu memahami begitu besar peran pesantren dalam pengambangan karakter seorang anak.
v  Dari berbagai penyimpangan di atas, seharusnya sebagai generasi  muda kita menyadarinya, sehingga ada rasa tanggung jawab untuk memperbaharui kenakalan remaja yang menjadi permainan social yang tak terkendali.
v  Untuk itu, pendidikan watak dan kepribadian anak sangatlah penting untuk diterapkan dalam ranah pendidikan. Dewan pendidikan Negara, penting untuk memperhatikan kemerosotan pendidikan akhlak bagi para peserta didik. Dan sebaiknya medirikan “tarbiyah al-Akhlak” di setiap wilayah, sehingga anak-anak maupun orangtua yang tidak mengenal akhlak dapat diikut sertakan dalam program ini.


















DAFTAR PUSTAKA

Ø  Sztompka. Sosiologi Perubahan Sosial. Prenatal Media, Jakarta 2004
Ø  Harton, Paul B dan Chestre L. Hunt. Sosiologi. Erlangga. Jakarta, 1992. Edisi keenam jilid 1.
Ø  Paulus Tangdilintin. Masalah-masalah Sosial. Universitas Terbuka. 2007.